Bencana Bantaeng Indikator Lemahnya Kontingensi
BERITAWAJO.COM, BANTAENG — Perencanaan kontinjensi bencana menjadi indikator utama terjadinya bencana di Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto. Saluran air tidak terkoneksi dengan baik.
Dewan Presidium Kongres Sungai, Ahmad Yusran mengatakan, banjir bandang di Kabupaten Bantaeng terjadi bukan hanya curah hujan. Juga, pembukaan ruang yang tak terkendali dari hulu ke hilir sumber air. Berikut belum optimalnya drainase primer dan sekunder yang ada.

LICIN. Seorang pengendara terjatuh ketika melewati jalanan berlumpur di Pasar Pasar Sentral Bantaeng, Minggu, 14 Juni. Akibat banjir bandang aktivitas ekonomi warga di pasar ini lumpuh total. ABE BANDOE/FAJAR
Berdasarkan foto satelit, bentang alam dan struktur dalam wilayah Kabupaten Bantaeng memang tidak ada interkoneksi hingga ke laut. Intensitas hujan yang tinggi yang membuat bias debit air sungai Cilendu. Setelah air menjebol cek dam dan petugas membuka pintu, air tidak bisa menemui jalan yang baik.
“Petugas pintu air yang lambat mengantisipasi karena selama ini mereka hanya memantau secara konvensional. Ini juga menjadi kesalahan fatal. Mungkin karena belum adanya peta kontingensi bencana banjir sungai di daerah itu,” jelasnya.
BANGKIT. Seorang anak berjalan tanpa alas kaki di tengah sisa material lumpur di Pasar Sentral Bantaeng, Minggu, 14 Juni. Akibat banjir bandang aktivitas ekonomi warga di pasar ini lumpuh total. ABE BANDOE/FAJARMenurutnya, apabila daerah memiliki peta kontingensi potensi-potensi bencana alam, masalah sosial, dan lainnya bisa terdeteksi dengan baik. Bencana bisa diminimalisasikan. “Upaya pencegahannya ada. Dan di sinilah peran maksimal BPBD untuk daerahnya,” paparnya.
Apabila rencana hingga peta kontingensi di Kabupaten Bantaeng memang ada, maka perlu dilihat secara detail lagi. Apakah ada evaluasinya. “Semua itu harus melihat bentangan alam. Setiap tahun pasti ada perubahan. Karena itu, kontingensi bencana perlu dievaluasi setiap tahun,” jelasnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantaeng, Irfan Fajar mengklaim sudah memiliki peta kontingensi. Tetapi, ia tidak mampu menjelaskan seperti apa pemetaan bencana Pemkab Bantaeng ke depan. Ia hanya menyebut langkah yang dilakukan pemerintah bersama TNI-Polri dan relawan pasca banjir.
Dengan membersihkan material lumpur. “Kemarin ada bantuan untuk rekonstruksi senilai Rp15 miliar dari Pemprov Sulsel. Itu yang akan kami gunakan untuk memperbaiki fasilitas umum yang rusak. Konstruksi cekdam Balang Sikuyu masih kuat. Hanya saja, curah hujan di hulu sangat tinggi sehingga tidak mampu menampung air,” jelasnya.
Kembali ke Rumah
Pantauan di lapangan, pasca banjir warga sudah meninggalkan posko pengungsian. Mereka kembali ke rumah. Membersihkan sisa-sisa lumpur dan sampah. Termasuk para pedagang yang harus kembali ke pasar membersihkan. Banjir bandang di Kabupaten Bantaeng membuat warga merasa trauma.
Akibat bencana ini, ada 195 orang yang sempat mengungsi di delapan posko yang dibentuk. “Terus terang kami kaget. Air tiba-tiba datang. Arusanya deras sekali. Jadi tidak ada barang-barang kami selamatkan,” kata Syamsia, warga Bonto Rita Kecamatan Bissapu.
Sementara itu, meski warga sudah kembali ke rumah, pemerintah tetap membuka dapur umum di sejumlah posko. “Kami tetap buka dapur umum,” sambung Irfan Fajar. Beberapa itik posko dapur umum ada di aula Polres, gedung olahraga dan lainnya.
Demikian berita ini dikutip dari FAJAR.CO.ID untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.
0 Response to "Bencana Bantaeng Indikator Lemahnya Kontingensi"
Post a Comment